Sisi Lain Young Engineer: Essay | Personal Blog VM Atmanegara Sisi Lain Young Engineer: Essay

Surat untuk Raja dan Ratu yang Bertahta

-Kebencian yang Tertahan-
26 Mei 2015

Sumber gambar: http://www.aldakwah.org/

Wahai Raja dan Ratu yang bertahta,
Jabatanmu kusegani. Melawanmu hanya seperti mendorong tembok yang berdiri kokoh. Tapi ingatlah Tuan dan Nyonya, apa yang telah menjadi hak orang lain janganlah kautahan seketika. Andai kautahu ada harapan keluargaku di rumah di sana.

Wahai Paduka yang mumpuni,
Segala hormatku tak berkurang padamu, Tuan. Tapi seisi hatiku penuh kecewa, saat kauhentikan laju pesawat terbang tiba-tiba, sama saja kauhempaskan puluhan nyawa sia-sia.

Wahai Nyonya yang bijaksana,
Kuingat jasamu yang telah memungutku di tengah tumpukan busuk dan kotor. Sejak saat itu kuanggap kau orangtuaku. Tapi, murka tertahan di hatiku saat kauucap untuk melupakan hakku sesaat setelah aku keluar dari ruang tahtamu.

Wahai manusia yang memiliki pengalaman hidup,
Kutahan air mataku agar tak jatuh di hadapanmu. Andai kautahu. Ada harapan masa depan saudara kecilku dari hakku yang kautahan itu, seseuatu yang kausuruh lupakan itu. Walau itu semua, Tuan dan Nyonya, takkan mengurangi rasa hormatku padamu. Ibuku menasihatiku untuk mengingat jasamu.

Taukah kau, Tuan dan Nyonya yang penuh wibawa,
Sungguh tiada lagi yang bisa kulakukan, selain sabar dan ikhlas. Profesionalisme dan kejujuranku takkan pernah terganggu oleh tingkahmu itu. Tuhan telah menjanjikan kemudahan di setiap kesulitan. Aku yakin, Tuan dan Nyonya, hidup di dunia hanya sementara, akhiratlah terminal akhir pemberhentian kita semua. Berlaku baiklah selagi bisa, memberikan penghargaan sesuai porsinya, atas tenaga dan jiwa yang telah bekerja sesuai instruksimu.

Salam,
Orang kerdil yang tak pernah berkurang rasa hormatnya padamu.
Dari Pardjo Untuk Tukiyem

Dari Pardjo Untuk Tukiyem

   Bukannya aku tak mau, sayang, untuk mengajakmu ke pantai lagi, tapi aku hanya tak ingin kau kecewa karena pantai dimana kita mengukir beribu kenangan indah itu tak seindah dulu lagi, telah penuh dengan sampah, akibat dari kepraktisan mereka yang tak sedikitpun berpikir tentang kesehatan anak cucu mereka, hati mereka sekotor pemandangan pantai yang dipenuhi sampah-sampah tersebut.
   Dan bukannya aku tak mau, sayang untuk menuntunmu menelusuri hutan lagi, tapi aku hanya tak ingin dirimu kecewa, karena hutan dimana kita mengukir cerita indah berjuta rasa itu tak serindang dulu lagi, akibat dari pemikiran mereka yang hanya berfikir untung semata, bahkan pohon yang berukirkan nama kitapun telah menjadi korban kebrutalan mereka, mereka tebangi semuanya tanpa memikirkan persoalan bagi anak cucu mereka, otak mereka segundul hutan yang mereka tebangi tersebut. 
   Namun, jika kau memaksa, sayang untuk pergi ke pantai dan gunung maka kita tidak akan pergi untuk mengenang masa-masa indah, melainkan untuk mengabdikan diri pada alam, kita bersihkan pantai dari sampah-sampahnya dan kita tanam pohon di gundulnya hutan. Teriakan kekecewaan yang kita ungkapkan, sayang, hanyalah bisikan kecil biasanya bagi mereka, para pelaku kebiadaban terhadap alam, semoga dengan segala upaya ini kita bisa menyadarkan hati dan otak mereka yang hanya membayangkan kepraktisan dan tumpukan uang. Dan yakinilah, sayang, cintaku padamu tidak kurang dari cintaku terhadap alamku.
Back To Top